Ciamis, sosio.com – Upaya merawat ingatan kolektif dan kearifan lokal masyarakat Galuh kembali diwujudkan melalui peluncuran buku Sejarah Singkat Dalem Cilongkrang, sebuah karya yang merekam jejak sejarah, nilai budaya, serta peran tokoh Dalem Cilongkrang dalam perjalanan sosial dan keagamaan masyarakat Desa Mekarjaya, Kecamatan Baregbeg, Kabupaten Ciamis. Jumat (30/01/2026)
Buku tersebut disusun sebagai bentuk tanggung jawab intelektual dan moral untuk menjaga sejarah lokal agar tidak tergerus perubahan zaman.
Melalui dokumentasi tertulis, kisah dan nilai yang hidup di tengah masyarakat diharapkan tetap lestari, dapat dipelajari lintas generasi, serta menjadi pijakan dalam memperkuat identitas budaya daerah.
Sejarah Singkat Dalem Cilongkrang ditulis oleh H. Andang Andi, S.H., S.Pd., M.M., Asep Nugraha, S.Pd., Kusdedi, K., dan Awan Tarwan.
Para penulis berupaya menyajikan sejarah secara ringkas, sistematis, dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan, mulai dari pelajar, akademisi, tokoh masyarakat, hingga generasi muda.
Salah seorang penulis, H. Andang Andi, menyampaikan bahwa buku ini merupakan karya perdana yang secara resmi diluncurkan ke publik.
“Buku ini menjadi langkah awal kami dalam mendokumentasikan sejarah Dalem Cilongkrang agar dapat dibaca dan dipelajari secara luas oleh masyarakat,” ujarnya.
Dijelaskan Andang dalam buku tersebut diceritakan Dusun Cilongkrang pada masa lampau merupakan bagian dari wilayah Desa Saguling sebelum terjadinya pemekaran desa.
“Wilayah ini telah ada sejak berabad-abad silam dan termasuk dalam struktur pemerintahan Kabupaten Galuh Imbanagara sekitar abad ke-17 Masehi,” jelasnya.
Menurut Andang Dalem Cilongkrang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah lokal Galuh Imbanagara, khususnya dalam penguatan ajaran Islam serta peran pemerintahan tradisional. Pada masa Kompeni Belanda, Dalem Cilongkrang dikenal sebagai tokoh agama sekaligus pemimpin masyarakat yang arif dan bijaksana.
“Penelusuran sejarah tokoh Dalem Cilongkrang dilakukan oleh Paguyuban Wasiat Cilongkrang melalui kajian sumber tertulis dan tradisi lisan,” ucapnya.
Salah satu rujukan utama adalah buku Silsilah Rundayan Prabu Haur Kuning karya A.T. Soedradjat (cetakan 1997, Yayasan Koesoemadiningrat), yang mencatat bahwa Dalem Cilongkrang memiliki nama asli Raden Kertapraja.
Raden Kertapraja merupakan putra Raden Adipati Soetadina, Bupati Galuh Imbanagara periode 1693–1707 M, serta cucu Raden Adipati Angganaya, Bupati Galuh Imbanagara pada tahun 1678–1693 M.
“Catatan silsilah para bupati Galuh tersebut hingga kini masih tersimpan dan dijaga oleh juru pelihara makam di Desa Cisadap,” kata Andang.
Andang menerangkan secara genealogis, Raden Kertapraja merupakan keturunan bangsawan (menak) yang memiliki hubungan erat dengan trah penguasa Galuh.
Dalam struktur pemerintahan Sunda abad ke-17, ia tercatat sebagai patih (wakil bupati) di Kabupaten Galuh. Sebagai Dalem di Cilongkrang, ia berperan sebagai pemimpin adat sekaligus pengambil kebijakan lokal yang dihormati masyarakat.
“Jabatan “Dalem” dalam tradisi Sunda tidak sekadar gelar, melainkan representasi sistem kekerabatan, hierarki sosial, dan kepemimpinan tradisional yang telah mengakar kuat selama berabad-abad,” terangnya.
Lebih lanjut Andang menuturkan dalam konteksnya, Dalem Cilongkrang memimpin pembukaan permukiman serta mengembangkan syiar Islam bersama para pengikutnya.
Hingga kini, lokasi pemakaman Dalem Cilongkrang berada di Dusun Mekarsari RT 03/RW 05, Desa Mekarjaya, Kecamatan Baregbeg, Kabupaten Ciamis, dan masih menjadi salah satu pusat perhatian masyarakat dalam kegiatan keagamaan dan tradisi lokal.
“Buku ini mencatat tingginya antusiasme masyarakat terhadap kegiatan syiar Islam yang diwariskan dari peran Dalem Cilongkrang. Aktivitas keagamaan dinilai mampu meningkatkan pemahaman agama, memperkuat ukhuwah Islamiyah, serta menjaga keharmonisan sosial,” tuturnya.
Andang menambahkan Dalem Cilongkrang diposisikan sebagai pusat pembinaan umat dan episentrum dakwah yang adaptif terhadap budaya lokal. Pendekatan dakwah yang inklusif dinilai efektif dalam menjangkau masyarakat pedesaan dan membentuk karakter religius yang berkelanjutan.
“Buku ini juga memuat sejumlah rekomendasi, di antaranya pentingnya inovasi metode dakwah oleh pengurus Dalem Cilongkrang, dukungan berkelanjutan dari Pemerintah Desa Mekarjaya, serta partisipasi aktif masyarakat dalam pelestarian budaya dan kegiatan keagamaan,” imbuhnya.
Selain itu, dibuka ruang bagi penelitian lanjutan terkait dampak jangka panjang syiar Islam terhadap ketahanan sosial dan potensi pengembangan ekonomi syariah di tingkat desa.
Penerbitan Sejarah Singkat Dalem Cilongkrang diprakarsai oleh Paguyuban Wasiat Cilongkrang dan diterbitkan oleh RCI sebagai wujud kepedulian terhadap pelestarian sejarah lokal. Buku ini diharapkan menjadi referensi sejarah, bahan edukasi, serta sumber inspirasi dalam menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya dan jati diri daerah.
Melalui peluncuran buku ini, Andang dan para penulis mengajak masyarakat untuk semakin menyadari pentingnya menjaga, merawat, dan mewariskan sejarah. Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan fondasi penting dalam membangun masa depan yang berakar pada nilai, identitas, dan kearifan lokal. (Eddy Ejen)




