spot_imgspot_img

Inovasi Infak Recehan, Strategi BAZNAS Ciamis Jaga Partisipasi Warga di Tengah Tekanan Ekonomi

- Advertisement -

Ciamis, sosio.,com,- Di tengah tekanan ekonomi masyarakat serta kebijakan efisiensi dan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Ciamis terus menunjukkan kemampuan adaptif melalui inovasi pelayanan penghimpunan dana sosial.

Salah satunya dengan menghadirkan sistem infak recehan yang ringan, sederhana, dan tidak memberatkan masyarakat.

Ketua BAZNAS Kabupaten Ciamis, Drs. H. Lili Miftah, menegaskan bahwa kondisi fiskal daerah maupun penurunan daya beli masyarakat tidak serta-merta melemahkan semangat berbagi warga.

Menurutnya, kunci menjaga partisipasi masyarakat terletak pada inovasi yang selaras dengan kemampuan dan kebiasaan sosial warga.

“Alhamdulillah, efisiensi anggaran dan defisit APBD tidak berpengaruh pada hubungan sosial masyarakat Ciamis.

Secara batin, kepedulian warga justru tetap kuat. Yang penting adalah bagaimana kami berinovasi agar masyarakat bisa berinfak tanpa merasa terbebani,” ujar Lili Miftah.

BAZNAS Ciamis mengembangkan inovasi kencleng infak recehan, di mana masyarakat dapat menyisihkan uang kembalian belanja mulai dari Rp200 hingga Rp500 setiap hari. Meski nominalnya kecil, pola ini dinilai efektif karena dilakukan secara konsisten dan sukarela.

“Kalau dulu infak Rp5.000 per bulan saja terasa berat bagi sebagian warga, sekarang cukup Rp200 atau Rp500 dimasukkan ke kencleng. Tidak terasa, tidak dipaksa, tapi hasilnya optimal ketika dikumpulkan,” jelasnya.

Pendekatan ini juga mengubah pola lama penghimpunan infak yang mengandalkan penjemputan langsung ke rumah-rumah. Dengan sistem baru, masyarakat merasa lebih nyaman dan memiliki kesadaran sendiri untuk berpartisipasi.

Lili mencontohkan penerapan inovasi tersebut di Desa Kertasari, yang sebelumnya hanya mampu menghimpun sekitar Rp3,5 juta per bulan melalui metode konvensional. Setelah penerapan kencleng infak, potensi penghimpunan meningkat karena partisipasi warga menjadi lebih merata.

Bahkan, kata Lili, inovasi ini menjangkau lapisan masyarakat paling bawah yang selama ini kerap dianggap tidak memiliki kemampuan untuk berinfak.

“Ada pengamen yang sebelumnya tidak pernah berinfak. Setelah menggunakan kencleng, di akhir bulan isinya bisa Rp80 ribu, bahkan mencapai Rp160 ribu per bulan. Padahal isinya hanya Rp200 perak. Ini luar biasa,” ungkapnya.

Kearifan Lokal dan Kesadaran Spiritual
Menurut Lili Miftah, keberhasilan inovasi ini juga ditopang oleh nilai kearifan lokal dan kesadaran spiritual masyarakat Ciamis.

Masyarakat merasa infak bukan soal besar kecilnya nominal, melainkan soal keikhlasan dan kesesuaian dengan kemampuan.

“Orang Sunda bilang, kahartos aya butos. Ada rasa bahwa sedikit pun tetap berarti. Warga pulang belanja, dapat kembalian Rp200 atau Rp500, langsung dimasukkan. Secara ekonomi ringan, secara batin menenangkan,” katanya.

Ia menambahkan, infak yang dilakukan secara ringan justru mendorong konsistensi.

Bahkan ada warga yang sebelumnya merasa berat memberi Rp5.000, kini tanpa terasa mampu mengumpulkan hingga Rp20.000 per bulan.

Diapresiasi hingga Tingkat Nasional
Inovasi infak recehan yang dikembangkan BAZNAS Kabupaten Ciamis ini turut mengantarkan lembaga tersebut meraih sejumlah apresiasi dan penghargaan.

Pendekatan yang diterapkan bahkan menjadi rujukan bagi daerah lain, termasuk dari tingkat pusat.

“Banyak yang datang ke Ciamis untuk belajar. Ini bukan meniru dari luar, tapi lahir dari kebutuhan masyarakat sendiri. Alhamdulillah, diapresiasi dan memberi manfaat luas,” ujarnya.

Lili Miftah menegaskan bahwa seluruh ikhtiar yang dilakukan BAZNAS Ciamis berlandaskan pada nilai ibadah dan keteguhan spiritual.

“Ibadah harus tegak lurus kepada Allah. Tugas kami membuka jalan agar masyarakat mudah berbuat baik. Soal hasil dan keberlanjutan, semuanya kami kembalikan kepada Gusti Allah,” pungkasnya.

Ke depan, BAZNAS Kabupaten Ciamis berkomitmen untuk terus memperkuat inovasi pelayanan sosial yang inklusif, adaptif, dan berorientasi pada kebermanfaatan nyata bagi masyarakat, khususnya di tengah tantangan ekonomi yang masih berlangsung. (Eddy Ejen)

Bagikan

Komentar

Artikel Terkait
- Advertisment -spot_img

Populer

- Advertisment -