spot_imgspot_img

Simak, Bagaimana Latar Belakang Berdirinya Projo

Nasional, Sosio: Relawan Pro-Jokowi (Projo) telah menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) pada Sabtu (14/10). Dalam Rakernas kali ini Presiden Joko Widodo bertindak sebagai pembuka acara.

Dalam agendanya, Ketua Umum (Ketum) Pro-Jokowi sekaligus Menkominfo Budi Arie Setiadi mengumumkan bakal Capres-cawapres yang mereka usung.

Sementara, ketua koalisi Indonesia Maju Prabowo Subianto dan Walikota Solo Gibran Rakabuming Raka turut diundang dalam Rakernas.

Diketahui Prabowo dan Gibran dikabarkan akanĀ  berpasangan pada Pemilu tahun 2024. Tetapi, Budi Arie enggan berbicara banyak terkait deklarasi pasangan tersebut.

“Kayak yang mau tau aja. Ya pokoknya besok kita deklarasikan,” ujar Budi Arie ketika ditemui di kawasan Istana Merdeka, Jum’at (13/10).

Dari pemantauan di lokasi, Presiden Jokowi tiba di arena Rakernas sekitar pukul 14.20 WIB. Ketika itu didampingi oleh Ketum Budi Arie Setiadi.

Kehadiran Gibran pada kegiatan Rakernas Projo hanya sebentar. Lantas Ia langsung pamit sebelum kedatangan Jokowi.

Latar Belakang Berdiri Projo

Projo atau Pro-Jokowi ialah sebuah organisasi kemasyarakatan (ormas) yang mendukung Joko Widodo dan telah diresmikan oleh Kementerian hukum dan HAM.

Awalnya Ormas ini merupakan gerakan relawan pendukung Jokowi. Namun statusnya berganti menjadi organisasi kemasyarakatan pada kongres Pro-Jokowi pertama tertanggal 23 Agustus 2014 di Jakarta.

Mengutip buku berjudul Menjemput Takdir Sejarah: Tiga Tahun Transformasi Projo Menjadi Ormas 2014-2017, yang dimaksud kata Pro-Jokowi berasal dari bahasa Sansekerta yang memiliki arti pemerintahan negeri, kerajaan, atau istana.

Dalam bahasa Jawa Kawi, kata Projo berarti rakyat. Maka sejalan dengan maknanya ormas Pro-Jokowi merupakan orang-orang atau relawan yang mencintai negerinya sendiri dan rakyatnya.

Pro-Jokowi didirikan melalui musyawarah panjang kongres pertamanya yang ketika itu menjelang Pemilu 2014.

Para perintis berdiri Projo ialah mereka para kader PDIP dan sejumlah aktivis mahasiswa 98, diantaranya Budi Arie Setiadi, Fahmi Alhabsyi, Firmansyah, Gunawan Wirosaroyo,
Suryo Sumpeno, dan Jonacta Yani.

Selain itu turut menjadi simpatisan dari paguyuban warga kota-kota Jawa Tengah yang bertempat tinggal di Jakarta.

Baca Juga: Mengenal Bahaya Penyakit Lambung

Projo dibentuk bertujuan mendukung Capres Jokowi untuk maju di Pilpres 2014. Sempat beredar ketika itu Jokowi didapuk menjadi Cawapres dipasangkan dengan Megawati sebagai capres.

Namun sebagian besar kader PDIP di sejumlah daerah mendukung Joko Widodo menjadi calon presiden.

Relawan Projo yang dulunya mendukung dan mendirikan Pro Mega 1998, berharap kepada Megawati untuk mengamini keinginan mereka mengenai Jokowi menjadi capresnya.

“Banyak yang bilang PDIP enggak pro terhadap Jokowi untuk dijadikan capres, maka kita tampung dulu keinginan mereka,” kata Budi Arie ketika deklarasi Projo, di Jakarta Selatan, Sabtu 21 Desember 2013.

Setelah mengadakan deklarasi Projo selanjutnya para relawan dan pendukung Joko Widodo menggalang dukungan disetiap DPC PDIP.

Akhirnya, Megawati mengalah dan tidak maju di Pilpres 2014 dan mengusungkan Jokowi sebagai Capres usulan PDI-Perjuangan pada Jumat, 14 Maret 2014.

Ketika masa kampanye pun, Projo turut andil bersama pendukung Jokowi lainnya untuk memenangi kontestasi Pilpres 2014.

Setelah Joko Widodo terpilih menjadi presiden tidak lantas membuat Projo bubar. Akan tetapi relawan akan terus maju dalam mendampingi kepemimpinan Jokowi.

Bagikan

Komentar

Artikel Terkait
- Advertisment -
Google search engine

Populer

- Advertisment -