Ciamis, Sosio.com,- Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDesma) Sejahtera LKD Kecamatan Baregbeg, Kabupaten Ciamis, menyelenggarakan Musyawarah Antar Desa (MAD) di Aula Kantor Kecamatan Baregbeg, Jumat (23/1/2026).
Forum tersebut menjadi agenda strategis dalam rangka penyampaian laporan pertanggungjawaban pengelolaan keuangan tahun 2025 sekaligus pembahasan rencana kerja dan strategi penguatan ekonomi desa pada tahun 2026.
Kegiatan MAD dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, di antaranya Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Ciamis, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas PMD, jajaran pengurus BUMDesma Sejahtera LKD Baregbeg, unsur Muspika Kecamatan Baregbeg, para kepala desa se-Kecamatan Baregbeg, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tokoh masyarakat, perwakilan kelompok Simpan Pinjam Perempuan (SPP), serta para pendamping wilayah.
Dalam forum tersebut, Direktur BUMDesma Sejahtera LKD Baregbeg, Cucu Nurdiana, S.Pd.I, menyampaikan laporan pertanggungjawaban keuangan tahun 2025 sekaligus memaparkan dinamika serta tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan usaha selama satu tahun terakhir.
Ia mengungkapkan bahwa pada tahun 2025 terjadi penurunan kinerja dibandingkan tahun sebelumnya, terutama akibat masih adanya kredit macet pada program simpan pinjam.
“Pada tahun 2025 memang terjadi penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Mudah-mudahan di tahun 2026 seluruh kelompok dapat kembali lancar,” ujarnya.
Meski demikian, Cucu menegaskan bahwa program Simpan Pinjam Perempuan (SPP) di Kecamatan Baregbeg masih menunjukkan perkembangan yang cukup baik.
Laba dari akad lancar dinilai tetap stabil dan mampu berputar untuk mendukung aktivitas usaha masyarakat desa.
“Alhamdulillah, usaha yang dikelola kelompok Simpan Pinjam Perempuan masih terus berkembang. Laba dari akad lancar tetap stabil dan dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan ekonomi masyarakat desa,” jelasnya.
Namun, ia juga mengakui masih terdapat sejumlah kendala, khususnya tingginya angka kredit macet.
Menurutnya, sebagian pinjaman belum dimanfaatkan secara optimal sehingga memerlukan pembenahan tata kelola dan penguatan pendampingan agar tidak menjadi beban bagi keberlangsungan BUMDesma ke depan.
“Kami melihat masih ada pinjaman yang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Ini harus menjadi perhatian bersama agar program simpan pinjam tetap menjadi motor penggerak ekonomi desa,” tambahnya.
Menanggapi hal tersebut, salah satu kepala desa yang hadir dalam MAD menegaskan pentingnya peran aktif pengurus BUMDesma bersama pemerintah desa dalam melakukan pengawasan dan pendampingan terhadap kelompok usaha penerima pinjaman.
Tanpa pendampingan yang berkelanjutan, potensi kredit macet dinilai akan semakin besar dan dapat menghambat perputaran modal usaha desa.
“Jika pinjaman tidak kembali, maka kelompok usaha lainnya akan kesulitan mendapatkan akses permodalan. Ini harus segera dicarikan solusi agar BUMDesma tetap sehat dan berkelanjutan,” tegasnya.
Selain itu, sejumlah peserta MAD juga menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia, baik pengurus BUMDesma maupun kelompok usaha, terutama dalam pemahaman manajemen usaha dan pengelolaan keuangan.
Langkah tersebut dinilai krusial untuk menekan angka kredit macet sekaligus menjaga keberlanjutan program simpan pinjam sebagai salah satu pilar utama penguatan ekonomi desa.
Melalui Musyawarah Antar Desa ini, seluruh pemangku kepentingan diharapkan dapat memperkuat sinergi dan komitmen bersama dalam menjaga BUMDesma Sejahtera LKD Baregbeg sebagai lembaga ekonomi desa yang sehat, transparan, dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.(Eddy Ejen)




