Ciamis, sosio,com,.– Komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan terus diperkuat di Kabupaten Ciamis. Sebagai bentuk kepedulian terhadap kelestarian lingkungan hidup.
Komunitas Pelatihan dan Pemberdayaan Ramah Lingkungan (KP2RL) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Ekonomi Hijau untuk Lingkungan Hidup Berkelanjutan”, bertempat di Agrowisata Leuwi Keris. Selasa (17/2/2026).
Forum ini menjadi langkah konkret dalam merumuskan strategi penerapan pembangunan rendah karbon di Kabupaten Ciamis melalui kolaborasi multipihak.
Kegiatan tersebut dihadiri berbagai organisasi lingkungan dan elemen masyarakat, di antaranya Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Jawa Barat, Sarekat Hijau Indonesia, serta Paguyuban Bale Rahayu.
FGD dirancang sebagai ruang dialog dan sinergi antara pemerintah daerah, komunitas, dan sektor swasta guna mempercepat transisi menuju ekonomi hijau yang berkelanjutan dan inklusif.
Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya, dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Irwan Effendi selaku Kepala Bidang Kebersihan dan Persampahan pada Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (DPRKPLH) Kabupaten Ciamis, menyampaikan apresiasi atas inisiatif KP2RL dalam mendorong pembangunan berwawasan lingkungan.
Menurut Bupati, penyelenggaraan FGD ini mencerminkan meningkatnya kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang ramah lingkungan.
“Ekonomi hijau bukan lagi sekadar wacana, melainkan kebutuhan. Pembangunan ke depan harus mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Ciamis telah mengintegrasikan pembangunan rendah karbon dan berketahanan iklim ke dalam dokumen perencanaan daerah sebagai bagian dari komitmen mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) serta target Net Zero Emissions 2060.
Meningkatnya bencana hidrometeorologi, lanjutnya, menjadi peringatan bahwa pola pembangunan yang tidak berkelanjutan harus segera ditinggalkan. Karena itu, diperlukan sinergi lintas sektor dalam mempercepat upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
“Kami berharap forum ini dapat menghasilkan rekomendasi yang aplikatif dan dapat ditindaklanjuti dalam kebijakan maupun program nyata di lapangan,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua KP2RL sekaligus Dewan Daerah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Jawa Barat, Turehan Ashuri, menegaskan bahwa ekonomi hijau merupakan strategi pembangunan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan dan keadilan sosial, sekaligus menekan risiko kerusakan lingkungan secara signifikan.
“Ekonomi hijau bukan sekadar konsep, tetapi harus diwujudkan dalam langkah nyata di tingkat daerah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, implementasi ekonomi hijau di Kabupaten Ciamis difokuskan pada tiga pilar utama, yakni pengembangan pertanian organik, ekonomi sirkular dan pengelolaan sampah, serta penguatan ekowisata berkelanjutan.
Kabupaten Ciamis sendiri menargetkan deklarasi sebagai Kabupaten Pertanian Organik pada tahun 2026, melalui pemanfaatan sekitar 265 hektare lahan bengkok desa, pengolahan limbah tahu menjadi pupuk organik, serta pengembangan demplot padi organik berbasis System of Rice Intensification (SRI).
Selain itu, penguatan bank sampah digital melalui Sustainable Ways Project serta optimalisasi kawasan Situ Lengkong Panjalu sebagai model ekowisata berkelanjutan menjadi bagian penting dalam mendorong ekonomi hijau di Ciamis.
Turehan menambahkan, kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan sektor swasta merupakan kunci agar transisi menuju pembangunan rendah karbon dapat berjalan efektif dan berkelanjutan.
FGD Ekonomi Hijau ini juga membahas sejumlah sektor prioritas lainnya, seperti pengembangan energi terbarukan, pengelolaan limbah terpadu, perhutanan sosial, dukungan terhadap kendaraan listrik, serta penguatan pertanian organik dan ekowisata.
Ia berharap, forum tersebut dapat melahirkan dokumen roadmap ekonomi hijau Kabupaten Ciamis, penyusunan Indeks Ekonomi Hijau daerah, serta peningkatan kapasitas aparatur pemerintah dan pelaku usaha dalam perencanaan pembangunan berwawasan lingkungan.
“Melalui kolaborasi yang solid antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil, Kabupaten Ciamis diharapkan mampu mempercepat transisi menuju ekonomi hijau yang berkelanjutan, inklusif, dan berorientasi pada kesejahteraan generasi masa depan,” pungkasnya. (Eddy Ejen)




