spot_imgspot_img

Bangga Kencana: Transformasi Program KB untuk Kualitas Keluarga Indonesia

- Advertisement -

Cirebon, SOSIO: Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terus memperkuat komitmennya untuk meningkatkan kualitas keluarga Indonesia melalui program Bangga Kencana.

Berbeda dari program Keluarga Berencana (KB) yang identik dengan kontrasepsi, Bangga Kencana hadir dengan pendekatan holistik untuk membangun keluarga yang sehat, harmonis, dan sejahtera, mulai dari calon pengantin hingga lansia.

Acara di Kabupaten Cirebon ini menghadirkan narasumber dari BKKBN Pusat, perwakilan UPT Balai Diklat Cirebon, OPDKB, dan Anggota DPR RI untuk mengupas berbagai inisiatif strategis.

Pendampingan Holistik untuk Kualitas Keluarga Indonesia

Menurut Lisna, narasumber dari BKKBN Pusat, program Bangga Kencana menawarkan pendampingan di setiap tahap kehidupan, mulai dari calon pengantin, ibu hamil, hingga lansia.

Salah satu fokus utama adalah mencegah stunting melalui edukasi dini. “Kami merekomendasikan usia ideal menikah, yaitu 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki. Calon pengantin juga mendapat edukasi melalui aplikasi Elsimil untuk memastikan keluarga terbebas dari stunting,” ujar Lisna.

BKKBN juga menekankan pentingnya pemantauan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

“Jika pertumbuhan anak belum optimal sebelum 1000 HPK, masih ada waktu untuk koreksi. Namun, setelah melewati periode ini, diperlukan pendekatan lebih intensif,” tambahnya.

Selain itu, program “4T” (terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat, terlalu banyak) menjadi pedoman untuk mencegah risiko kehamilan yang tidak sehat, dengan menyarankan jarak kelahiran minimal dua tahun dan jumlah anak tidak lebih dari dua.

Peran Ayah dan Lansia dalam Keluarga Berkualitas

Program Bangga Kencana juga menyoroti pentingnya peran ayah dalam pengasuhan anak, terutama di era digital yang didominasi penggunaan gadget oleh remaja.

Lisna menjelaskan, “Melalui program Genre, kami mengajak ayah menjadi teladan untuk meningkatkan komunikasi dengan anak, mengingat ibu secara teori lebih banyak berbicara dibandingkan ayah.”

Inisiatif ini bertujuan mengurangi dampak negatif penggunaan gadget yang berlebihan pada remaja.

Tak hanya fokus pada anak dan remaja, BKKBN juga memiliki program Lansia Tangguh untuk mendukung kesehatan fisik dan sensorik lansia, yang jumlahnya terus meningkat.

“Data menunjukkan populasi lansia di Indonesia terus bertambah. Kami ingin memastikan mereka tetap sehat dan produktif,” ungkap Lisna.

Transformasi Program KB di Cirebon

Perwakilan BKKBN UPT Balai Diklat Cirebon menjelaskan bahwa program Bangga Kencana menggantikan paradigma lama KB yang hanya berfokus pada kontrasepsi.

“Jawa Barat menyumbang 20% penduduk nasional, dengan laju pertumbuhan 0,78%. Setiap tiga menit, dua bayi lahir di Jabar. Oleh karena itu, kami mendorong penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang seperti IUD dan implan, serta menyarankan keluarga tidak memiliki dua balita secara bersamaan,” ujar perwakilan tersebut.

Program Bina Keluarga juga menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk meningkatkan kualitas keluarga Indonesia.

“Ini bukan program instan, tetapi investasi untuk masa depan keluarga yang lebih baik,” tambahnya.

Ia juga menyebutkan lima penyesalan hidup, termasuk salah memilih pasangan, sebagai pengingat pentingnya perencanaan keluarga.

Harmoni Keluarga ala OPDKB

Kepala Dinas OPDKB, Indra, mengibaratkan membangun keluarga seperti menyusun puzzle yang rumit.

“Jika disusun dengan baik, hadiahnya adalah keluarga sakinah, mawadah, warahmah,” katanya.

Ia menyoroti perbedaan komunikasi antara pria dan wanita, di mana wanita berbicara hingga 20.000 kata per hari, sementara pria hanya 7.000 kata.

“Bapak disarankan menjadi pendengar yang baik untuk istri, sementara istri perlu memahami kodrat pria yang fokus pada pekerjaan dan cenderung memiliki ekspresi datar,” jelas Indra.

Program prioritas seperti Genting, Gati, Tamasya, dan Sidaya juga menjadi andalan untuk mendukung harmoni dan kualitas keluarga Indonesia.

Dengan memahami perbedaan kodrat pria dan wanita, konflik rumah tangga dapat diminimalisasi.

Generasi Emas 2045 dan Ketahanan Keluarga

Anggota DPR RI, Netty, menegaskan bahwa kualitas keluarga Indonesia adalah fondasi untuk mewujudkan Generasi Emas 2045.

“Tidak ada bangsa yang maju tanpa ketahanan keluarga. Keluarga adalah institusi awal yang menentukan keberhasilan atau kegagalan seseorang,” ujarnya.

Ia mengapresiasi pembentukan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga oleh Presiden Prabowo, yang menunjukkan komitmen pemerintah menjadikan keluarga sebagai arus utama pembangunan.

Netty juga menyoroti pentingnya perencanaan keluarga sejak dini untuk mencegah stunting dan anak “kebobolan” yang sering dianggap tidak diharapkan.

“Sekolah terlama adalah keluarga. Untuk itu, kita harus membangun ketahanan keluarga dari sisi ekonomi, psikologis, sosial, dan spiritual,” tambahnya.

Kolaborasi untuk Masa Depan Keluarga Indonesia

Program Bangga Kencana tidak berjalan sendiri. Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk dana desa dan puskesmas, menjadi kunci keberhasilan.

Program 3B (ibu hamil, menyusui, dan balita) serta Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting menekankan pentingnya asupan protein dan pemantauan gizi anak.

“Semua program ini membutuhkan dukungan lintas sektor untuk menciptakan kualitas keluarga Indonesia yang unggul,” tutup Lisna.

Dengan pendekatan menyeluruh, dari pencegahan stunting hingga pemberdayaan lansia, program Bangga Kencana menjadi tonggak penting untuk mewujudkan keluarga Indonesia yang sehat, harmonis, dan produktif menuju Generasi Emas 2045.

Bagikan

Komentar

Artikel Terkait
- Advertisment -spot_img

Populer

- Advertisment -