spot_imgspot_img

Gaza Kehabisan Bahan Bakar Akibat Blokade Israel

- Advertisement -

“Jika blokade Israel terus melakukan blokade di jalur Gaza, seluruh bantuan yang datang ke rumah sakit akan tethambat,” ungkap Thomas White.

Ia menuturkan rumah sakit membutuhkan generator, pabrik desalinasi air, dan truk-truk untuk mendistribusikan makanan dan pasokan medis.

“Bahan bakar sangat penting untuk kehidupan dan kami [UNRWA] akan kehabisan bahan bakar untuk Gaza pada hari Rabu,” ungkapnya.

Pernyataan keras dari White ini muncul saat 10 dari 35 rumah sakit di Gaza tidak dapat beroperasi untuk menangani korban serangan militee Israel.

Dalam peperangan ini, pembangkit listrik Gaza menjadi sasaran serangan udara Israel dalam dua konflik sebelumnya, sejak 2006 dan 2014.

Serangan yang dilakukan Israel itu dinilai melanggar hukum kemanusiaan internasional dan dianggap sebagai kejahatan perang.

Dampak dari serangan terencana ini melumpuhkan upaya Gaza untuk memenuhi kebutuhan listrik sekitat 500 MW harian di Jalur Gaza.

Listrik ke Gaza berasal dari dua sumber, diantaranya 120 MW dari Israel, yang ditarik oleh Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant pada tanggal 9 Oktober.

Selain itu ada tambahan 70MW dari pembangkit listrik Gaza, yang kehabisan bahan bakar pada tanggal 11 Oktober. Dampaknya adalah masyarakat dan rumah sakit bergantung pada generator dan pasokan bahan bakar yang semakin menipis.

Saat ini, tidak ada yang bisa masuk ke Gaza tanpa izin tertulis dari Israel. Selain itu bahan bakar diawasi secara ketat oleh Koordinator Kegiatan Pemerintah di Wilayah (COGAT) Israel dan Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (UNOCHA).

Begitu pengiriman bahan bakar melintasi Rafah menuju Gaza, para sopir truk harus bekerja keras dan tidak diizinkan untuk berhenti dengan alasan apa pun.

Kendati demikian setiap ketidaknormalan dalam kondisi peperangan akan dilaporkan kembali melalui pejabat PBB kepada semua pihak, termasuk COGAT.

Israel memiliki mekanisme yang memungkinkan bahan bakar dikirim ke Gaza. Namun, mungkin ini bukan soal kemampuan dan lebih kepada keinginan atau ketiadaan keinginan.

“Menciptakan krisis kemanusiaan yang parah adalah cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Gaza akan menjadi tempat di mana tidak ada manusia yang bisa hidup.” ujar Mayor Jenderal Giora Eiland.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kekurangan bahan bakar mempengaruhi fungsi-fungsi paling penting dari rumah sakit yang masih beroperasi di Gaza.

Diantaranya termasuk menyalakan ambulans untuk mengangkut yang terluka dan menjalankan mesin dialisis yang diandalkan oleh lebih dari 1.000 pasien.

Hidup dengan margin terbaik
Sejak tahun 2007, penduduk Gaza telah mengalami lima konflik yang menewaskan ribuan warga sipil dan merusak infrastruktur strategis lainnya.

Serangan dan blokade yang dilakukan oleh Israel selama 16 tahun terakhir telah mengakibatkan perekonomian di jalur Gaza menjadi terhambat.

Tercatat Gaza memiliki tingkat penganggiran tertinggi di dunia yang mencapai hampir 50 persen dan meningkat menjadi 70 persen di kalangan anak muda.

Hal ini juga menciptakan salah satu krisis kemanusiaan terburuk di zaman modern dengan 81,5 persen penduduk berada di bawah garis kemiskinan.

“Masalah utama lainnya adalah mekanisme saat ini yang rata-rata sekitar 20 truk bantuan kemanusiaan per hari, sama sekali tidak sesuai dengan apa yang kami butuhkan untuk menopang masyarakat Gaza,” ujar White.

Ia menuturkan sebelum konflik biasanya sebanyak 455 truk masuk ke Gaza untuk mendukung penduduk.

White menegaskan satu hal yang tampaknya pasti adalah jika bahan bakar tidak masuk ke daerah kantong tersebut dengan segera, ratusan bahkan ribuan orang akan meninggal.

Bagikan

Komentar

Artikel Terkait
- Advertisment -spot_img

Populer

- Advertisment -