“Pembunuhan dan pelecehan terhadap anak-anak, penculikan anak-anak, serangan terhadap rumah sakit dan sekolah, serta penolakan terhadap akses kemanusiaan merupakan pelanggaran berat terhadap hak-hak anak,” ujar Khodr.
“UNICEF mendesak semua pihak untuk menyetujui gencatan senjata, mengizinkan akses kemanusiaan dan membebaskan semua sandera,” tuturnya.
Ia menerangkan, perang pun ada aturannya. Warga sipil harus dilindungi, terutama anak-anak, dan semua upaya harus dilakukan untuk menyelamatkan mereka dalam segala situasi.
Kepala PBB Antonio Guterres juga memperbarui seruan gencatan senjata pada hari Selasa dan mengatakan bahwa hukum internasional telah dilanggar dalam perang antara Israel dan Hamas.
Ia mengatakan bahwa warga Palestina telah mengalami pendudukan yang mencekik selama 56 tahun, namun keluhan-keluhan Palestina tidak membenarkan serangan Hamas.
Ia mengatakan pada saat yang sama, serangan-serangan mengerikan Hamas tidak dapat membenarkan hukuman kolektif terhadap rakyat Palestina.
Puncak gunung es
Dengan trauma perang dan pendudukan yang terus menerus, empat dari lima anak di Gaza hidup dengan depresi, kesedihan, dan ketakutan, menurut laporan tahun 2022 dari Save the Children.
Lebih dari separuh dari mereka bergumul dengan pikiran untuk bunuh diri dan trauma menyaksikan kematian anak-anak lain.
Pekan lalu, sebuah LSM Palestina mengatakan bahwa satu anak di Gaza terbunuh setiap 15 menit dalam pengeboman Israel yang sedang berlangsung.
“Kami menyaksikan genosida secara nyata,” kata juru bicara Defense for Children International – Palestina (DCIP).
Di tengah perang, pendidikan telah ditangguhkan dan sekolah-sekolah digunakan untuk menampung para pengungsi.
Sekolah-sekolah, seperti halnya rumah sakit, juga mengalami kerusakan akibat serangan udara yang sedang berlangsung.
Israel memblokade Jalur Gaza setelah serangan Hamas, sehingga makanan, bahan bakar, dan bantuan reguler tidak dapat masuk.
Dalam seminggu terakhir, beberapa lusin truk yang membawa bantuan telah diizinkan masuk melalui penyeberangan perbatasan Rafah dengan Mesir, tetapi LSM mengatakan bahwa pasokannya tidak cukup.
Kekurangan air yang mengerikan dan mendesak juga menimbulkan konsekuensi serius bagi anak-anak.
UNICEF mengatakan pada hari Selasa, mencatat bahwa sebagian besar sistem air telah sangat terpengaruh. Yakni tidak beroperasi karena kekurangan bahan bakar dan kerusakan infrastruktur vital.
UNICEF mengatakan bahan bakar, yang tidak diizinkan Israel masuk ke Gaza, sangat penting untuk pengoperasian fasilitas-fasilitas penting seperti rumah sakit, pabrik desalinasi, dan stasiun pompa air.
UNICEF juga mengatakan bahwa unit perawatan intensif neonatal yang menampung bayi yang baru lahir dalam inkubator, bergantung pada ventilasi mekanis. Sehingga pasokan listrik yang tidak terputus merupakan masalah hidup dan mati.
“Tanpa akses kemanusiaan, kematian akibat serangan bisa menjadi puncak gunung es,” kata Khodr.
Baca Juga: Asal-Usul Ayam Geprek, Makanan Favorit Mahasiswa
Ia menegaskan jumlah korban tewas akan meningkat secara eksponensial jika inkubator mulai rusak, jika rumah sakit menjadi gelap.
“Anak-anak terus meminum air yang tidak aman dan tidak memiliki akses terhadap obat-obatan ketika mereka sakit,” tegasnya.




