4. Kebohongan tentang Serangan Udara Mematikan
Pada tanggal 13 Oktober 2023, warga sipil melakukan konvoi untuk melarikan diri dari serangan tentara Israel di rute aman yang telah diidentifikasi oleh Israel.
Namun, tentara Israel melakukan penyerangan terhadap warga sipil tersebut. Diketahui serangan udara tersebut menewaskan 70 orang dan sedikitnya 200 orang mengalami luka-luka.
Meski demikian, militer Israel membantah penyerangan terhadap konvoi tersebut tidaklah benar.
Di sisi yang lain, Amnesty International memverifikasi video serangan tersebut dan menyimpulkan bahwa itu adalah hasil dari serangan udara.
5. Kebohongan tentang Pembunuhan Jurnalis
Pada 11 Mei 2022, jurnalis terkenal Palestina-Amerika Shireen Abu Akleh ditembak di lehernya dan dibunuh oleh penembak jitu Israel.
Penembakkan itu dilakukan ketika sedang melaporkan invasi tentara Israel ke kamp pengungsi Jenin di Tepi Barat yang diduduki Israel.
Selain itu, penembakkan tersebut dilakukan ketika Shireen Abu Akleh tidak berada di dekat tempat pertempuran saat itu dan mengenakan rompi bertuliskan “Pers”.
pemerintah Israel, melalui Perdana Menterinya saat itu, Naftali Bennett, dan militer Israel menyalahkan kematian Abu Akleh kepada warga Palestina.
Selain itu Ia menyatakan video yang disebarkan tidak benar terkait dengan tembakan Palestina selama invasi tersebut sebagai bukti yang seharusnya.
Namun, beberapa investigasi independen termasuk The Washington Post, The New York Times, The Associated Press, CNN, serta kelompok-kelompok hak asasi manusia seperti Amnesty International, dan Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB untuk Wilayah Palestina semuanya menyimpulkan bahwa Abu Akleh dibunuh oleh tentara Israel.
Militer Israel sendiri kemudian mundur dan menyatakan bahwa Abu Akleh mungkin dibunuh oleh salah satu tentaranya.
6. Berbohong tentang Pengeboman kantor Media di Gaza
Selama serangannya pada Mei 2021 di Gaza, Israel mengebom sebuah menara bertingkat yang menjadi tempat kantor media – termasuk The Associated Press dan Al Jazeera – yang meratakan bangunan 14 lantai itu dengan tanah.
Pemerintah Israel mengklaim bahwa gedung tersebut berisi aset militer milik kantor intelijen Hamas. Namun, Human Rights Watch menyimpulkan bahwa Israel tidak memberikan bukti untuk mendukung tuduhan tersebut.
Pihaknya juga mengklaim bahwa serangan tersebut tampaknya melanggar hukum perang dan mungkin merupakan kejahatan perang.
7. Kebohongan tentang Pembunuhan Ahmad Erekat di pos Pemeriksaan militer Tepi Barat
Pada tanggal 23 Juni 2020, Ahmad Erekat (27) dibunuh oleh tentara Israel saat melakukan perjalanan untuk pernikahan saudara perempuannya. Diketahui Ia menabrakkan mobilnya ke pos militee Israel.
Pemerintah Israel mengklaim bahwa itu adalah upaya serangan terhadap tentara yang termasuk ke dalam pendudukannya.
Namun, Arsitektur Forensik, sebuah kelompok penelitian yang berbasis di Goldsmiths, Universitas London, dan organisasi hak asasi manusia Palestina, Al Haq, melakukan investigasi mendalam dan menyimpulkan bahwa itu adalah kecelakaan lalu lintas dan bahwa Erekat telah dieksekusi di luar hukum.
8. Rekayasa Video untuk Memalsukan Klaim Petugas Medis yang Dibunuh
Pada Juni 2018, seorang penembak jitu Israel membunuh seorang petugas medis berusia 21 tahun, Razan al-Najjar.
Hal tersebut dilakukan selama protes warga Palestina yang dipenjara akibat kependudukan dan pengepungan Israel atas Gaza.
Selain itu, pemerintah Israel berupaya untuk mencemarkan nama baik Razan dan membenarkan pembunuhannya menyusul protes internasional.
Baca Juga: Nilai Uang Rupiah Anjlok, Dolar AS Tembus 16.000
Pemerintah Israel mengedarkan sebuah video yang mengklaim bahwa Razan bertindak sebagai perisai manusia untuk Hamas.
Namun, video tersebut kemudian diketahui telah direkayasa oleh militer Israel untuk mengeluarkan komentarnya di luar konteks.
Seperti yang dicatat oleh kelompok hak asasi manusia Israel, B’Tselem, militer Israel pada awalnya mengklaim bahwa tentara tidak menembaki tempat dimana dia berdiri.
9. Kebohongan tentang Pembunuhan Dua remaja Palestina
Pada tanggal 15 Mei 2014, dua remaja Palestina tak bersenjata, Nadim Nuwarah (17) dan Mohammed Salameh (16) ditembak dan dibunuh oleh tentara Israel dengan menggunakan peluru tajam saat melakukan protes di Tepi Barat yang diduduki.
Israel awalnya mengklaim bahwa tentaranya tidak menggunakan peluru tajam. Ungkapan tersebut dibantah oleh hasil otopsi yang dilakukan Human Rights Watch dan CNN.
Ungkapan tersebut bertentangan dengan pemerintah Israel, sebab hasil otopsi menunjukkan bahwa keduanya dibunuh dengan menggunakan senjata tajam.




